Inovasi dan Pariwisata Berkelanjutan Dibahas di Rakornas Pariwisata 2026

KILASEVENT.COM – Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 pada hari kedua membahas strategi inovasi pengembangan pariwisata daerah serta penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.
Kepala Bidang Data Informasi dan Pengembangan Destinasi Disparekraf DKI Jakarta, Bima Agung, mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus bersinergi dengan kementerian maupun internal daerah dalam pengembangan destinasi dan penyelenggaraan kegiatan kepariwisataan di Jakarta.
Menurut Bima, transformasi pariwisata dan ekonomi kreatif di Jakarta diarahkan untuk memperkuat posisi ibu kota sebagai hub pariwisata dan ekonomi kreatif nasional maupun internasional. Arah pengembangan itu difokuskan pada tiga hal, yakni pengembangan destinasi wisata unggulan baru seperti wisata urban, heritage, pesisir, dan kepulauan; penguatan industri MICE yang didukung infrastruktur bertaraf internasional; serta pengembangan creative hub sebagai ruang tumbuh ekosistem ekonomi kreatif Jakarta.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarjaya, menyampaikan bahwa sektor pariwisata masih menjadi tulang punggung ekonomi Bali dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 66 persen pada 2025.
Meski demikian, Bali juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain alih fungsi lahan sawah, peningkatan volume sampah, kerusakan ekosistem lingkungan, kemacetan, serta ketimpangan aktivitas wisata antara Bali Selatan dan wilayah lainnya.
Karena itu, pembangunan pariwisata Bali ke depan akan difokuskan pada penguatan kebudayaan Bali, pembangunan destinasi baru, pengembangan infrastruktur strategis, pelestarian lingkungan, serta promosi pariwisata terpadu. Wayan menilai arah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam pembangunan pariwisata regeneratif.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur (NTT), Doris Alexander Rihi, mengatakan NTT akan terus didorong sebagai destinasi pariwisata bernilai tinggi, berkelanjutan, dan berbasis pengalaman mendalam dengan kekuatan alam, budaya, serta sosial masyarakat setempat.
Doris menyebut NTT perlu diposisikan sebagai Indonesia’s special tourism frontier dengan lima kekuatan utama, yaitu eco and conservation tourism, marine and island tourism, cultural and heritage tourism, sport and adventure tourism, serta community-based tourism.
Kelima kekuatan itu akan dikembangkan melalui klaster pengalaman wisata, meliputi Exotic Flores yang mengedepankan wisata konservasi, bahari, dan pengalaman religi; Exotic Sumba berbasis kampung adat, tenun, ritual budaya, dan resort kelas internasional; serta Exotic Timor yang menawarkan wisata perbatasan, astronomi, bahari, dan petualangan.
Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital Bappenas, Wahyu Wijayanto, menambahkan bahwa di tengah tantangan optimalisasi anggaran, diperlukan penajaman program yang memiliki dampak berantai tinggi bagi perekonomian.
Menurut Wahyu, belanja kementerian dan lembaga perlu diprioritaskan pada program yang memberi multiplier effect besar, seperti konektivitas destinasi, event internasional, penguatan UMKM pariwisata, dan pengembangan tematik pariwisata. Selain itu, penguatan digitalisasi, pengembangan satu data pariwisata, dan peningkatan kualitas destinasi unggulan juga dinilai penting.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor kementerian dan lembaga, khususnya dalam pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 3 Destinasi Pariwisata Regeneratif.
