Festival Lom Plai Raih Penghargaan KEN 2026 dari Kemenpar

24 Apr 2026 • 07:48 Event Hunter

KILASEVENT.COM – Festival Lom Plai di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, resmi masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang ditetapkan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Penghargaan tersebut disampaikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan pemerintah daerah bersama masyarakat adat Dayak Wehea dalam menjaga dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat Dayak Wehea atas komitmen mereka menjaga nilai budaya yang terkandung dalam Festival Lom Plai.

“Festival Lom Plai bukan sekadar perayaan, melainkan cerminan nilai-nilai luhur masyarakat adat Dayak Wehea yang sarat filosofi kehidupan. Di dalamnya terkandung pesan kebersamaan, penghormatan mendalam terhadap alam, serta keseimbangan antara manusia dan lingkungannya,” ujar Ririn saat menghadiri puncak acara Embob Jengea di Desa Nehas Liah Bing, Kamis.

Ia menambahkan, Festival Lom Plai memiliki daya tarik wisata yang besar, baik dari sisi lanskap alam maupun keunikan kehidupan masyarakat adat. Menurutnya, potensi tersebut layak dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis budaya dan ekowisata unggulan di Kalimantan Timur.

Rangkaian tradisi Lom Plai dimulai secara sakral melalui prosesi Ngesea Egung atau pemukulan gong pada 23 Maret sebagai penanda dimulainya ritual. Setelah itu, masyarakat menjalankan Laq Pesyai dengan mengambil buah hutan dan rotan di hulu Sungai Wehea untuk perlengkapan upacara.

Prosesi kemudian berlanjut dengan ritual Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min yang menjadi simbol pembuatan batas wilayah hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan. Keunikan budaya Wehea juga tampak dalam ritual Ngelwung Pan, ketika para perempuan adat menjalankan ritual spiritual secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui.

Memasuki April, masyarakat membangun pondok darurat di pinggir sungai dalam tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menuju hari puncak. Perayaan puncak atau Bob Jengea kemudian dimeriahkan dengan pawai budaya, tari Hudoq, hingga atraksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal sebagai Seksiang.

Seluruh rangkaian akan ditutup dengan ritual pembersihan kampung Embos Epaq Plai pada 29 April 2026, sebagai bentuk penolakan terhadap hal buruk dan doa untuk keberkahan musim tanam berikutnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyatakan komitmennya untuk terus mendorong sektor pariwisata berkelanjutan agar mampu menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.

Festival Lom Plai sendiri merupakan pesta adat pasca-panen padi yang sakral bagi masyarakat Dayak Wehea. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur atas hasil bumi sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian Lom Plai berlangsung sekitar 38 hari dan diisi berbagai ritual, mulai dari Nak Pesyai Wit Min hingga pengantaran Woh Pesyai, serta ditandai dengan tarian adat, nyanyian sakral, dan ritual sesajen.

Event Hunter
Pemburu event, suka membahas tentang keunikan sebuah event.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya