Pemkab Kutim Gelar Festival Lom Plai untuk Lestarikan Budaya Dayak Wehea
KILASEVENT.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersama masyarakat adat menggelar Festival Lom Plai selama 38 hari, mulai 23 Maret hingga 29 April 2026. Puncak acara berlangsung pada 22–29 April 2026 di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur.
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Dayak Wehea yang terus menjaga warisan budaya leluhur. Menurut dia, Tradisi Lom Plai merupakan identitas daerah yang memiliki nilai kearifan lokal tinggi dan perlu terus dilestarikan.
Kehadiran Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Event Daerah Reza Pahlevi serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur Ririn Sari Dewi pada puncak acara disebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan wisata budaya di Kutai Timur.
Tradisi Lom Plai dinilai memiliki daya tarik kuat untuk mendorong pariwisata berbasis budaya. Karena itu, puncak perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai agenda adat, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan khazanah budaya Dayak Wehea kepada masyarakat yang lebih luas.
Dalam penyambutan tamu, masyarakat adat Dayak Wehea menampilkan ritual Nelkeak, prosesi sakral yang sarat makna kultural dan spiritual. Ritual ini menjadi simbol penerimaan tamu dengan penuh martabat sekaligus wujud penghormatan kepada para pendatang.
Menurut penjelasan dalam narasi acara, Nelkeak juga dipanjatkan sebagai doa kepada roh leluhur agar hal-hal yang kurang baik dari luar dapat dinetralisir. Ritual ini berakar pada pandangan kosmologi masyarakat adat yang memandang manusia, alam, dan leluhur sebagai satu kesatuan harmoni.
Selain itu, Nelkeak dimaknai sebagai upaya spiritual agar lingkungan masyarakat tetap terjaga dan para tamu mendapat keselamatan, kesehatan, serta keberkahan selama berada di Nehas Liah Bing.
